Selasa, 16 Juni 2026

PIALA DUNIA VS PERSOALAN PAPUA: SEBUAH KRITIK DARI SUDUT PANDANG MAHASISWA PAPUA.







 Ilusterasi Fhoto: Kita boleh melihat dunia, tetapi  jangan lupa melihat tanah sendiri.

Oleh:
Yonas Yogi


PIALA DUNIA VS PERSOALAN PAPUA:
 SEBUAH KRITIK DARI SUDUT PANDANG MAHASISWA PAPUA.
Refleksi Filosofis tentang Hiburan Global, Kemanusiaan, Tanah, dan Tanggung Jawab Intelektual


Di tengah gemuruh dunia menyambut Piala Dunia 2026 , jutaan manusia bersatu dalam satu panggung besar bernama sepak bola. Stadion menjadi simbol persatuan, bendera negara berkibar, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan manusia dari berbagai latar belakang berkumpul dalam semangat kompetisi. Sepak bola menjadi bahasa universal yang mampu melampaui batas negara, ras, budaya, dan ideologi.Namun, dari tanah Papua muncul sebuah pertanyaan kritis dari sebagian mahasiswa: mengapa manusia begitu mudah bersatu ketika berbicara tentang bola, tetapi sering sulit bersatu ketika berbicara tentang persoalan manusia, tanah, dan keadilan? Pertanyaan ini bukan sekadar penolakan terhadap sepak bola atau Piala Dunia. Kritik ini adalah sebuah refleksi tentang prioritas moral manusia modern. Apakah manusia lebih mudah menangisi kekalahan sebuah tim di stadion daripada menangisi penderitaan manusia yang terjadi di sekitar mereka?Papua melihat adanya ketimpangan perhatian. Dunia dapat berhenti beberapa jam hanya untuk menyaksikan pertandingan sepak bola, tetapi persoalan kemanusiaan di berbagai tempat sering berjalan tanpa sorotan besar. Mereka mempertanyakan: apakah nilai kehidupan manusia seharusnya tidak mendapatkan perhatian yang sama besar dengan sebuah pertandingan olahraga?**


1. Piala Dunia sebagai Simbol Dunia Modern


Menurut pemikiran filsuf Marx, Karl. 1867. Kapital: Kritik Ekonomi Politik Jilid I) Kehidupan manusia sering dipengaruhi oleh struktur sosial, ekonomi, dan kekuasaan. Dalam pandangan kritis Marx, manusia harus melihat lebih jauh dari permukaan sebuah fenomena. Sesuatu yang terlihat indah belum tentu bebas dari persoalan yang lebih dalam.Piala Dunia adalah perayaan olahraga, tetapi di baliknya terdapat industri besar, ekonomi global, kepentingan politik, dan citra negara. Sepak bola tidak hanya tentang permainan 90 menit, tetapi juga tentang uang, pasar, media, dan pengaruh.

Pertanyaan mahasiswa Papua bukan:

Mengapa kalian menonton sepak bola?"

Tetapi:"Mengapa perhatian manusia terhadap hiburan global sering lebih besar dibanding perhatian terhadap penderitaan manusia yang nyata? Karena menurut logika kemanusiaan, kehidupan manusia tidak boleh menjadi sesuatu yang kalah populer dibanding sebuah kompetisi.


 2. Tanah Papua dan Pertanyaan tentang Kepedulian.


Papua bukan hanya sebuah wilayah geografis. Papua adalah tanah kehidupan, tempat manusia memiliki hubungan dengan alam, budaya, sejarah, dan identitas.Bagi masyarakat adat Papua, tanah bukan sekadar tempat berdiri. Tanah adalah bagian dari kehidupan, sumber nilai, tempat leluhur, dan ruang keberlanjutan generasi. Pemikir lingkungan seperti (Naess, Arne. 1989. Ekologi, Komunitas, dan Gaya Hidup. Cambridge: Cambridge University Press) Melalui konsep *Deep Ecology* menjelaskan bahwa manusia tidak boleh melihat alam hanya sebagai objek untuk digunakan, tetapi sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang harus dihormati.Dari sudut pandang ini, ketika terjadi kerusakan lingkungan, hilangnya ruang hidup masyarakat, atau persoalan sosial, maka masalah tersebut bukan hanya masalah ekonomi atau politik, tetapi masalah moral.Karena manusia yang kehilangan hubungan dengan alam pada akhirnya kehilangan bagian dari dirinya sendiri.


3. Kritik Mahasiswa Papua: Jangan Kehilangan Kesadaran


Mahasiswa sebagai kelompok intelektual memiliki tanggung jawab untuk bertanya. Dalam tradisi ilmu pengetahuan, kritik bukan berarti kebencian. Kritik adalah cara manusia mencari kebenaran.Tokoh Pendidikan (Freire, Paulo. 1970. Pedagogi Kaum Tertindas. New York: Continuum ) Melalui gagasan *pendidikan kritis* menjelaskan bahwa manusia harus memiliki kesadaran terhadap realitas di sekitarnya. Pendidikan bukan hanya membuat seseorang pintar membaca buku, tetapi mampu membaca keadaan masyarakat. Dari pemikiran ini, mahasiswa Papua mempertanyakan: Apakah kita hanya menjadi penonton sejarah, atau menjadi manusia yang ikut memikirkan masa depan? Apakah kita hanya mengenal pemain sepak bola dunia, tetapi tidak mengenal persoalan masyarakat sendiri? Apakah kita hafal skor pertandingan, tetapi lupa mendengar suara orang-orang yang mengalami kesulitan? Pertanyaan tersebut bukan untuk mematikan kebahagiaan, tetapi untuk membangun kesadaran.


4. Antara Hiburan dan Tanggung Jawab Moral


Filsuf (Kant, Immanuel. 1785. Landasan Metafisika Moral )menjelaskan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan hanya sebagai alat.Artinya, manusia harus memiliki nilai yang lebih tinggi daripada benda, keuntungan, atau hiburan.Jika dunia mampu memberikan perhatian besar kepada olahraga, maka dunia juga seharusnya mampu memberikan perhatian besar kepada persoalan kemanusiaan.Tidak salah mencintai sepak bola.Tidak salah menikmati Piala Dunia.Tetapi menjadi masalah ketika manusia hanya melihat dunia melalui layar televisi, sementara realitas di sekitarnya tidak lagi diperhatikan.Karena manusia yang kehilangan kepedulian sosial akan menjadi manusia yang hanya hidup sebagai penonton.


5. Papua dan Suara Generasi Muda


Mahasiswa Papua tidak hanya berbicara tentang Papua. Mereka berbicara tentang sebuah pertanyaan universal:Apa arti kemajuan jika manusia kehilangan kemanusiaannya? Sebuah bangsa tidak hanya besar karena memiliki stadion megah, teknologi tinggi, atau prestasi olahraga. Sebuah bangsa besar ketika mampu menjaga martabat manusia, melindungi alam, dan menghadirkan keadilan.Kemajuan bukan hanya tentang berapa banyak piala yang dimenangkan.Kemajuan juga tentang berapa banyak manusia yang dihargai.


6. Dunia Sepak Bola dan Dunia Kehidupan


Sepak bola mengajarkan kerja sama. Sebelas pemain harus bergerak bersama untuk mencapai tujuan. Tidak ada pemain yang berdiri sendiri.Begitu juga kehidupan manusia. Dunia tidak bisa hanya bergerak untuk hiburan, sementara sebagian manusia masih menghadapi persoalan dasar kehidupan.Seperti pemikiran *Mahatma Gandhi, ukuran sebuah masyarakat bukan hanya dilihat dari kekuatan ekonominya, tetapi dari bagaimana masyarakat tersebut memperlakukan manusia yang paling lemah.Maka pertanyaannya:Ketika dunia bersorak untuk piala, siapa yang mendengar suara mereka yang masih berjuang?Ketika manusia merayakan kemenangan di stadion, apakah manusia juga merayakan kemenangan kemanusiaan?


7. Kesimpulan: Melihat Dunia dengan Dua Mata


Piala Dunia adalah simbol kebahagiaan global. Papua adalah simbol perjuangan kehidupan lokal. Keduanya tidak harus dipertentangkan secara mutlak.Namun kritik mahasiswa Papua mengingatkan bahwa manusia harus memiliki keseimbangan.Kita boleh melihat dunia, tetapi jangan lupa melihat tanah sendiri.Kita boleh mendukung pertandingan, tetapi jangan kehilangan kepedulian terhadap kehidupan.Kita boleh merayakan kemenangan olahraga, tetapi jangan diam terhadap persoalan kemanusiaan.Karena pada akhirnya, *piala dapat disimpan dalam museum, tetapi penderitaan manusia tidak boleh dibiarkan menjadi sejarah yang dilupakan.*Sebuah masyarakat yang maju bukan hanya masyarakat yang mampu memenangkan pertandingan dunia, tetapi masyarakat yang mampu menjaga nilai manusia di bumi tempat mereka berpijak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PIALA DUNIA VS PERSOALAN PAPUA: SEBUAH KRITIK DARI SUDUT PANDANG MAHASISWA PAPUA.

 Ilusterasi Fhoto: Kita boleh melihat dunia, tetapi  jangan lupa melihat tanah sendiri. Oleh: Yonas Yogi PIALA DUNIA VS PERSOALAN PAPUA:  SE...